cropped-hunting-foto-00012.jpg

Part 4- Ikhlas

Aroma tubuhmu masih jelas kuingat

Suaramu jelas masih terngiang

Kehangatan pelukmu masih jelas ku rasa

Di lubuk hatiku, tak pernah ada sosok lain

ri-sunset

Wajah sedih bercampur bahagia menjadi satu di wajah Ai, hari ini ayahnya melepas masa dudanya selama enam tahun, mengarungi bahtera baru setelah kepergian ibunda Ai. Gadis tersebut berusaha tegar, walau di hati terkecilnya masih belum rela. Setelah berpikir berkali-kali dan diskusi dengan kakak-kakaknya, akhirnya ayah Ai menikah lagi.

Ai, Nia, Sri dan beberapa pekerja di kafe House Kremma sedang merapikan kafe. Promosi bulan Agustus mulai berlaku hari ini. Kerja keras ketiga sahabat tersebut akhirnya membuahkan hasil. Ai, sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan feedloter namun, karena bulan depan sudah memulai kuliahnya memutuskan untuk berhenti bekerja untuk fokus kuliah dan usaha kafe. Nia saat salah satu sekolah internasional di Jakarta, mereka patungan membuat kafe di bantu biaya oleh keluarga masing-masing. Delapan bulan telah dilewati, sejauh ini usaha mereka lancar. Biasanya Ai, Nia, Sri bergantian mengunjungi kafe tiap hari Sabtu dan Minggu, jika tidak terlalu sibuk di hari-hari biasa, untuk menghandle di kafe mereka serahkan dengan Mbak Santi, salah satu kenalan Ai.

Bulan ini Ai, telah memulai kuliahnya di Bogor. Tiap sore dan pagi Ai kerja sambilan di sebuah peternakan yang tidak jauh dari tempat kosnya. Oleh karena itu, Ai hanya tiap seminggu sekali ke Jakarta untuk mengunjungi keluarga dan bisnisnya bersama teman-temannya.

Aroma tanah masih begitu menusuk setelah beberapa jam hujan mengguyur. Tampak terlihat wajah seorang laki-laki dalam balutan kesayuan. “Al, makan dulu sudah beberapa hari ini Ibu liat kamu masih saja mengurung diri.” Seorang wanita paruh baya membawa baki berisi makanan dan membawanya ke kamar untuk anak sulungnya yang begitu dicintainya.

Masih dalam balutan luka, dalam lamunannya wajah seorang gadis berjilbab menghiasi pikirannya. Wajah seorang gadis yang telah dicintainya selama beberapa tahun belakangan. Terngiang saat-saat pertama kali pertemuan di bangku taman SMA, yang membuatnya merasakan degub jantung yang berdebar-debar.

Wajah anggun berbalut jilbab putih dengan setelan baju putih-abu sedang asyik membaca buku. Di tempat lain terdapat laki-laki sebayanya yang sedang membawa sebuah bola basket tampak terpukau dengan keanggunan gadis tersebut. Malu-malu laki-laki tersebut mendekatinya, “Hai…” yang disapa hanya tersenyum. “ting… ting…” bunyi bel tanda masuk sekolah, gadis itu pun langsung pergi meninggalkan laki-laki tersebut. Masih dengan takjub laki-laki tersebut masih terpaku di tempatnya berdiri, masih dalam tatapan ragu karena biasanya gadis-gadis teman sekolahnya begitu kagum dengan ketampanan laki-laki tersebut. Wajah ganteng, tubuh atletis, pintar, ketua tim basket, serta anak band. “Apa yang kurang pada diriku ya, sehingga respon gadis tersebut biasa-biasa saja?” gumam laki-laki tersebut.

Aldi namanya, kelas XI SMA 81 adalah laki-laki yang populer dengan wajah yang tampan, ketua tim basket, anak band, pintar, anak dari pengusaha yang sukses, serta ramah. Banyak gadis-gadis di sekolah tersebut begitu menggilai Aldi, namun baginya hanya seorang gadis yang tak dikenal membuatnya merasakan debar-debar yang tak biasa. “Dino, tadi gue ketemu cewek berjilbab terlihat anggun sedang baca buku di taman, gue penasaran dia siapa?” cerita Aldi kepada sahabatnya. “Gue gak tau kan gak ketemu… hahaha…” “Iya juga sih. Kalau kita ketemu nanti gue kasih tau deh.” Ucap Aldi di sela-sela latihan basket.

Minggu pun telah berlalu, Aldi pun mengetahui siapa gadis yang telah membuatnya penasaran. Gadis tersebut adalah Ryana anak kelas XI-Ipa 2 pindahan dari Bandung, panggilannya adalah Ana dia mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tersebut seperti Rohis, dan PMR. Ana dikenal sebagai gadis yang cantik, baik, santun dan cerdas. Aldi begitu terkesan dengan Ana sehingga suatu hari dia menyatakan perasaannya terhadap Ana, dengan mengirimkan surat.

Teruntuk ANA…

Kubuka pagi dengan senyuman,

Sang mentari bersinar menyongsong hari yang penuh warna

Kusambut dengan jejak-jejak langkah yang akan menggoreskan warnanya

Satu hari ku tersadar, tersipu dengan satu senyuman…

Senyuman yang bermekaran dalam jiwaku

Tiba malam, ingin ku beranjak. Namun, senyum itu tetap mengusik…

Pada mimpi yang hadir kutemukan sesosok bidadari

Akankah bidadari itu menjadi milikku???

Kini, kutanyakan padamu, sesosok bidadari yang hadir dalam mimpiku

Maukah kau, menjadi bidadariku???

Dari Aldi, sesosok yang menggemarimu

Berhari-hari, bahkan hingga dua minggu Aldi menunggu jawaban surat dari Ana, namun tak kunjung ada balasan, hingga suatu hari di hari ulang tahun Aldi yang ke-17 terdapat sebuah kado berwarna biru muda di atas mejanya. Dibukanya dengan penasaran, sebuah buku diary berwarna biru tua dan secarik kertas.

Teruntuk Aldi,

                Begitu menyentuhnya puisi yang kau berikan padaku

                Kuucapkan terimakasih, puisi yang telah kau berikan

                Namun, bukan untuk menyakiti…

                Diriku tak pandai merangkai kata-kata

                Aku tak bisa menjadi bidadarimu…

                                                                                                                Ryana

Tampak sedih wajah Aldi, mendapati jawaban yang telah begitu di nantikannya. Hingga suatu saat Aldi menghampiri Ana, dan mempertanyakan alasan menolaknya. “Maaf, Aldi aku tidak ingin pacaran. Aku ingin seperti kakakku yang menikah tanpa melalui proses pacaran. Mungkin, kamu pikir aku cukup aneh atau apapun, ini adalah jawabanku.” Jawab Ryana dengan tegas dan meninggalkan Aldi.

Saat kegelisahan Aldi, salah seorang temannya yang juga ikut Rohis, mengajak Aldi untuk mengikuti kajian di masjid dan mengikutkan Aldi dalam kegiatan Rohis, hingga suatu hari dia mulai mengerti alasan Ryana menolaknya. Hari berganti hari, bulan pun berganti, lambat laun setelah kelulusan SMA, Ana melanjutkan kuliah di jurusan psikologi Unpad dan Aldi melanjutkan di Arsitektur UI.

Aldi kini telah menjadi aktivis dakwah kampus, begitu juga dengan Ana. Hingga suatu hari, setelah mereka lulus kuliah, keduanya telah mantab untuk mencoba taaruf. Tanpa diduga, mereka berdua dikenalkan oleh murobbi masing-masing. Hingga sampai tahap lamaran. Namun, seminggu sebelum akad berlangsung Ana sakit dan meninggal dunia.

….

“Nak, masih belum dimakan juga?” Ujar wanita paruh baya, membuyarkan lamunan Aldi. “Iya, Bu. Sebentar lagi Aldi makan.” Tak tega melihat wajah kesedihan Ibunya. “Sudah, jangan berlama-lama bersedihnya. Ana sudah tenang di alam sana. Kini, kamu mulai jalani kehidupanmu lagi. Insya Allah, di luar sana masih banyak gadis yang sebaik Ana.” Hujan masih mengguyur, menambah suasana menjadi melankolis.

“Silakan, ini pesanannya…” “Terimakasih…” Jawab Aldi, terkejut didapatinya pelayan tersebut adalah gadis yang selama ini dicarinya. “Maaf, boleh…” “Iya, ada yang kurang mas?” Jawab Ai. Sebelum Aldi melanjutkan perkataannya, hpnya berdering sehingga ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut kepada Ai.

“Ai… kangen! Jarang-jarang kamu ada di sini.” Ujar Sri, Ai hanya tersenyum dan mereka pun mengobrol mengenai kuliah Ai dan perkembangan kafe mereka. “Wah, ada orang Bogor nih. Kapan datang, Ai?” Tanya Nia. “Kemarin siang, tapi baru bisa ke kafe hari ini. Gak apa-apa kan?” “Iya, gak apa-apa.” Jawab Nia dan Sri berbarengan. “By the way, novel yang menang lomba udah naik cetak loh. Insya Allah, minggu depan sudah mulai ada di pasaran.” “Alhamdulillah, Ai. Selamat ya…” Ujar Nia. “Asyik, traktiran dong…” Ujar Sri. “Okay, nanti aku masakin yang paling enak untuk kalian… hehe…” Nia dan Sri, justru cemberut dengan jawaban Ai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s