OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Part 3 – Cinta?

Pagi ini Ai sudah rapih dengan dress berwarna peach senada dengan jilbabnya, terlihat begitu anggun. “Pak, Ai berangkat dulu ya mau kondangan ke tempat teman. Assalamualaikum…” . “Iya, hati-hati cah wadon Bapak, Waalaikumussallam…” dengan langkah agak bimbang Ai melangkahkan kakinya. Hari ini salah seorang sahabatnya akan menikah. “Ai, cantik banget kamu hari ini.” Sapa Lia, yang di sapa hanya tersenyum, sahabatnya di sana sudah berkumpul dan beberapa teman-teman SMAnya.

Lia, April, Suci, Esti, Rumi, Yuda, Alif, Wahyu dan Bayu adalah sahabat-sahabat yang telah mewarnai kehidupan Ai semenjak kelas XI IPA. Hari ini Bayu menikah, dia adalah seorang dokter lulusan UGM menikahi seorang gadis cantik bernama Arumi seorang dokter jebolan UI, mereka sudah saling mengenal semenjak SMP. Ijab kabul berjalan lancar, dan kini memasuki sesi foto, tentunya Ai dan sahabat-sahabatnya dan ketinggalan untuk berfoto, dulu mereka menamai dengan geng ‘PELANGI’.

“Ai, kamu jangan sedih ya Bayu sudah menikah…” Ujar April. “Hus! Pril, kamu ya…” Ujar Rumi. “Elah, santai aja kali… gue udah move on kali. Masa gue harus nangis gitu.” Jawab Ai, yang lain hanya senyum-senyum, di saat mereka sedang berkumpul di rumah Ai, ada Lia, Suci, dan Rumi, Esti tidak hadir karena sedang ada urusan. Bagi Ai, Bayu adalah cinta pertamanya yang begitu indah, walaupun dia tak pernah mengungkapkan kata-kata di hatinya masih bergetar tiap mendengar nama tersebut. Awalnya Ai, biasa-biasa saja mereka bersahabat, sering melakukan tugas kelompok bersama, sikap Bayu yang baik membuat bunga-bunga di hati Ai pun mulai tumbuh. Bertahun-tahun dia menyimpan rasa tersebut, sampai akhirnya Ai tahu bahwa Bayu sudah menemukan gadis pujaannya. Ai hanya mampu mengikhlaskannya, toh memang bukan jodoh. Tentu ada jodoh yang lebih baik dari Bayu, di antara geng pelangi hanya yang perempuan yang mengetahui perasaan Ai, kecuali Esti yang rada rempong jadi dia gak pernah tahu perasaan Ai terhadap Bayu.

……….

                Ai, Nia dan Sri sedang berada di lantai dua kafe House Kremma, mereka sedang mendiskusikan promosi untuk bulan depan. “Kapan, lo mulai kuliah Ai?” tanya Nia penasaran “Bulan September, dan selama gue kuliah bakal jarang datang ke kafe.” “Udah dapat kos?” tanya Sri, “Udah kok, di bayar lunas. Hehehe….” jawab Ai. “Cie, cita-cita lo buat S2 kesampean juga.” “Alhamdulillah, ya.” Senyum mengembang dari wajah Ai. “Gue dan keluarga juga udah liat lokasi kos dan kampusnya, waktu jalan-jalan ke Bandung kemarin. Oya, Bokap gue bakal nikah minggu depan, lo semua datang ya walaupun cuma syukuran biasa aja sih.” “Ai, lo akhirnya izinin Bokap nikah juga, walaupun berat yang sabar ya. Semoga Nyokap tiri lo baik.” Ujar Sri. “Aamiin…” Jawab Ai dan Nia bersamaan.

Semerbak aroma mawar

Terevaporasi ke dalam ruangan

Terhirup, menyesap ke dalam rongga dada

Bermekaran mawar-mawar merah

Memenuhi relung yang sedang kasmaran

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

                “Al, lo senang banget sih ngajakin gue makan di sini! Masih mencari gadis itu?” Protes Dino. “Fifty-fifty… Ada benarnya, ada salahnya. Beneran gue tuh ngerasa nyaman aja makan di kafe ini, gue juga pengen ketemu pemilik kafe ini siapa tahu bisa di ajak kerjasama buat proyek gue. Lagipula…” “Alasan lo! hahaha…” Sergah  Dino. “Ini, pesanannya Mas…” memecah olokan Dino. “Terimakasih…” Jawab Aldi dan Dino bersamaan, Aldi masih tercengang dan gadis tersebut telah lenyap. “Dino, gadis itu kan?” “Ya, gue tau. Gadis yang lo tunggu-tunggu.” Jawab Dino dengan santai sambil menyantap makanannya. Aldi masih merasa kesal dengan sikapnya yang gugup di hadapan gadis tersebut, dia pun menunggu gadis tersebut mengantar pesanan tamu lain bagai punuk merindukan bulan wajahnya pun masih tak tampak dan kali ini Aldi gagal lagi untuk mencari tahu siapa nama gadis tersebut.

….

                “Rabb, sungguh penasaran diriku dengan gadis tersebut. Apakah ini dinamakan cinta, atau hanya sekadar obsesi? Tiap kali ku melihat wajahnya, degup jantungku tak beraturan. Wajah itu, begitu menarik hatiku.” Aldi mencurahkan segala hatinya di atas sajadah di sepertiga malam.

                “Rabb, mengapa hati ini masih saja merindukannya. Sudah jelas, kulihat dia bersanding dengan wanita cantik yang soleha. Tak sepantasnya aku seperti ini melelahkan dengan rasa cinta yang seakan hanya sekadar obsesi. Ku ingin cinta tanpa syarat, tanpa menyakiti, cinta di atas naunganMu. Bimbinglah aku memantaskan diri untuk seseorang yang akan bersanding denganku.” Air mata membasahi pipi Ai, ia hanya mampu mencurahkannya pada Sang Pemberi Cinta.

Seolah kata yang indah

Terkadang menusuk bagai duri

Walau aromanya begitu semerbak

Terdiam, tersedu, tersenyum

Satu kata yang mewakili

CINTA…

Sekadar obsesikah atau CINTA?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s