151-750x1125

Part 2 – Penasaran

Part 2- Penasaran

Burung-burung bersiul

Semesta mendukung

Langit cerah, bumi di pijak

Alam ikut tersenyum…

151-750x1125

Seorang gadis, dengan jilbab biru melaju dengan sepedanya memecah hening pagi. Menggayuh sepedanya dengan sekuat tenaga, parasnya yang manis serta senyum yang tersimpul membuat orang lain membalas senyumnya. “Mbak Ai, kapan sampainya?” tanya Rita, yang di tanya tersenyum. “Sekitar satu jam yang lalu, Dek.” “Wah, Mbak pagi banget datangnya. Seharusnya saya yang bersih-bersih kafenya, bukan Mbak yang harus bersihin.” Panjang lebar Rita mengatakan. “Ya, gak apa-apa. Hitung-hitung olahraga. Hehe…” Rita membantu mempersiapkan cafe yang akan di buka pukul sembilan pagi.

Aidah namanya, gadis tersebut berusia 25 tahun. Berparas manis, berkulit kuning, tinggi semampai, ia adalah pendiri kafe ‘House Kremma’. Baru sekitar 6 bulan belakangan ia bersama ketiga sahabatnya mendirikan kafe tersebut. Awalnya, iseng-iseng jual makanan via online. Akhirnya bersama dengan Nia dan Sri memutuskan membuat kafe.

Aldi dan Dino telah memesan makanan, beberapa lama mereka menunggu. “Ini pesanannya, silakan dinikmati.” Senyum terukir di wajah seorang pelayan. “Terimakasih…” Jawab Dino, sedang Aldi masih tercengang melihat pelayan yang semakin lama menjauh. “Woi, lu kenapa? Kayak ketemu hantu muka lu aneh banget.” Tanya Dino penasaran. “Gak apa-apa.” “Serius? Lu kalau ada masalah cerita kek.” Masih dengan ketidakpercayaannya Aldi termenung dan bercerita, “Barusan, pelayannya adalah gadis yang tempo hari gue ceritain. Gue deketin eh, malah langsung pergi gitu aja. Mana nerobos hujan.” “Oh, ternyata cewek itu toh… Not special, but it’s okay. Lumayan lah manis juga. Ha… ha… Tapi, sayang cuma pelayan.” “Iya, sih. Tapi, gadis itu ngebuat perasaan gue jadi aneh.” Jawab Aldi. “Do you think feel first sight love?” “Yes.”

Aldi masih mencari-cari sosok gadis yang pernah ditemuinya, sampai dia mau pulang tak di lihatnya batang hidung gadis tersebut. Bagai tertelan bumi, setelah mengantarkan pesanan ke mejanya gadis tersebut tidak nampak sama sekali. Membuat Aldi semakin penasaran, waktu pun harus membuatnya meninggalkan kafe tersebut karena ada beberapa urusan yang harus dia handle.

“Rita, saya hari ini gak bisa lama-lama di kafe ya. Soalnya ada urusan keluarga, mungkin dua hari lagi saya gak ke kafe, nanti Nia bakal kesini kok untuk ngecek dan mengurus kebutuhan lainnya. Thanks ya, saya tinggal dulu. Assalamualaikum…” “Waalaikumussallam, oke. Hati-hati mbak.” Aidah mengayuh sepedanya, di tengah teriknya Jakarta.

Sesampainya di rumah, semua kakak-kakaknya, ayah, dan keponakannya sudah siap. Ai pun mengambil ransel yang sudah dipersiapkannya sejak semalem. Ya, Aidah dan keluarganya berencana untuk pergi ke Bandung. Mumpung kakaknya yang tinggal di Banjarmasin sedang cuti. Sebelumnya mereka akan pergi ke Bogor, keliling melihat kampus yang akan menjadi almamater Ai. Ya, tahun ini Ai akan melanjutkan S2nya, dengan beasiswayang didapatnya. Tekadnya, kuliahnya harus lebih baik dari S1nya. Mumpung masih muda, mendapat dukungan dari keluarganya itu adalah  pemacu bagi Aidah.

2 thoughts on “Part 2 – Penasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s