LOVE-1

Part 1 – Pertemuan

Aroma kopi menggugah selera, dihirupnya aroma tersebut sambil diteguk perlahan. Pandangannya ke arah luar, pikirannya meloncat-loncat. Tanpa menyadari siapa yang berada di sekeliling. Ingatannya berlarian kesana kemari, “Ternyata sudah hampir 25 tahun usiaku”. Genggaman tangannya semakin erat memegang mug, menikmati alunan musik serta gemerintik hujan.

LOVE-1

“Ai, sudah ngerjain PR matematika dari Ibu Guru?” tanya Eki. “Udah selesai kok.” “Eki, mau minta ajarin boleh gak?” tanya Eki kepada temannya Aida. “Iya, boleh. Datang aja ke rumah nanti sore abis ngaji.” Senyum mengembang dari gadis tersebut. “Oke, makasih ya Ai.” Ucap Eki.

Sore, terlihat 4 orang gadis kecil di rumah Ai, mengerumuni si empunya ada Eki, Rena, Puspa, Caca untuk mengerjakan tugas matematika. Yah, gadis-gadis kecil polos  tersenyum, tertawa, terkadang becanda. Seusai mengerjakan PR, mereka berlima main kejar-kejaran di sebuah lapangan. Memetik bunga, menangkap kupu-kupu atau capung. Begitu riang, wajah-wajah gadis kecil yang begitu polos tanpa ada rasa beban. Kelak, mereka akan menemui kesulitan masing-masing.

Biar, biarlah

Segala mimpi berkembang

Saat waktu berdentang

Saatnya tiba, kan kurasai segala nikmatnya

Biarlah pelukan kini menyampaikan kasihnya

Akan ada saatnya tiba pada masanya…

Hujan masih deras, kopinya telah abis. Masih dinikmatinya alunan musik dan gemerintik hujan. “Assalamualaikum, sendirian aja?” tanya seorang pria, yang ditanyai masih terbingung. “Hm, sorry, kalau tidak sopan duduk di sini, gak apa-apa kan?” gadis tersebut hanya tersenyum manis dan menjawab seadanya, “Waalaikumussallam, iya silakan duduk, saya juga sudah selesai.” Si gadis, langsung pergi begitu saja. Si pria kini yang bingung. Gadis tersebut, keluar dari kafe terburu-buru. Hujan pun diterobos olehnya, ia memandang langit sambil mengangkat kedua tangannya merasakan rintik hujan.

“Sudah dari tadi Bro? Sorry gue telat”. “Gak, kok baru 10 menit yang lalu.” “Oh, kirain dari dari tadi. Kok bengong mikirin apa?” “Ada seorang gadis yang duduk di sini sebelumnya, mau tebar pesona ceritanya, eh malah dia pergi gitu aja.” “Yaelah, muka lo serem kali, jadi tuh cewek takut. Haha… Haha…” Dino tertawa terpingkal-pingkal, temannya hanya pasang muka asem.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s