Ilmu Tanaman Pakan

Spesies tanaman pakan ada empat macam yaitu graminae, legume, ramban dan limbah. Kelompok graminae atau rumput sebangsa padi digolongkan ke dalam dua golongan yaitu rumput alam dan rumput potong atau budidaya. Rumput alam atau yang biasa disebut rumput ladang adalah rumput yang tumbuh secara liar di tanah-tanah terbuka, jenis rumput yang tumbuh bersifat heterogen, misal rumput teki dan rumput pahit. Rumput alam merupakan salah satu hijauan pakan yang banyak digunakan sebagai pakan ternak ruminansia kecil. Namun ketersediaan dan kandungan nutrisinya sangat dipengaruhi iklim dan jenis tanah, dimana produksinya berlimpah dengan kualitas baik yaitu 7-8% protein kasar pada musim hujan, kemudiaan akan turun drastis menjadi sangat rendah hingga 2-3% pada musim kemarau (Lay, 2009).

Kelompok ramban adalah tanaman yang didapat dari tanaman yang sengaja bukan untuk diambil daunnya sebagai pakan ternak tetapi bagian lain. Hijauan yang termasuk ke dalam jenis ini yaitu daun nangka, daun dadap, dan gamal. Biasanya ramban merupakan sumber karbohidrat serta memiliki kandungan protein yang cukup tinggi (Rahardjo, 2002).

Kelompok bahan pakan leguminosa terdiri dari legum menjalar dan protein, Ca dan P yang lebih tinggi dari graminae dan biasanya dijadikan sumber protein. Namun dalam sebagian legum terdapat anti nutrisi yang dapat membahayakn ternak. Lamtoro mengandung anti nutrisi mimosia yang dapat menghambat pertumbuhan dan merontokkan bulu. Upaya untuk mengandungi kandungan anti nutrisi yaitu melakukan pelayuan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak (Rahardjo, 2002). Limbah adalah sisa dari hasil produksi pertanian yang telah diproses. Serta memiliki kandungan gizi untuk pakaan ternak.

 

PEMBAHASAN

 

A.  Rumput (graminae)

Sifat Ideal Rumput Sebagai Pakan Hijauan adalah cepat membentuk rumpun atau tillage (hamparan penutup tanah), dapat menekan erosi tanah. Tunas tumbuh dekat permukaan tanah, sehingga tahan senggutan. Dapat beradaptasi dengan kondisi tanah dan lingkungan iklim yang luas. Akar serabut yang cepat menutup permukaan tanah. Tidak bersaing dengan pakan hewan monogastrik.

Taxonomi Rumput (Grass Anatomy):

Divisio             : Spermatophyta

Sub-Divisio     : Angiospermae

Class                : Monocotyledonae

Family             : Gramineae

Genus              : Pennisetum, Panicum, Paspalum, Brachiaria, dsb.

Spesies            : Pennisetum purpureum, Panicum maximum, Paspalum dilatatum,

  Brachiaria brizantha, dsb.

Anatomi Rumput adalah akar (root); batang (culm, stem) yang terdiri dari buku (node), ruas (inter node), daun (leaf) terdiri dari pelepah (leaf sheath), lembar daun (leaf blade); bunga (flower); dan biji (seed).

Biji Rumput: Ditutupi oleh 2 lembar kulit biji: lemma, dan palea. Biji terdiri dari tiga komponen utama:

1. aleurone layer: membran aleurone,

2. endosperm: berisi sumber energi untuk pertumbuhan embryo, dan

3. embryo: terdiri dari radicle (root precursor) dan plumule (bakal tunas: shoot precursor). Daun Rumput (Grass Leaf) terdiri dari pelepah daun (leaf sheath), leher daun (leaf collar) dan lembar daun (leaf blade). Batang (culm, stem) tediri dari buku (node), ruas (inter node) dan bunga rumput (grass inflorescence)

 

Bagian terkecil sistim pembungaan (satu unit bunga pembentuk satu bakal biji) disebut floret. Floret terdiri dari tiga filament dan anthera (benang sari dan kotak sari), dua stigma (kepala putik), satu  ovary (putik), lemma & palea.   Beberapa floret tersusun dalam satu satuan yang disebut spikelet, disatukan dalam gluma. Beberapa spikelet membentuk satu satuan yang disebut inflorescence. Ada dua bentuk utama Inflorescence yaitu Spike adalah floret tumbuh atau menempel langsung di axis atau rachis (tangkai bunga). Panicle (panikel) adalah beberapa floret (spikelet) membentuk percabangan sebelum melekat di rachis. Dari bentuk panicle ini terdapat modivikasi menjadi beberapa bentuk morphologi sistim percabangan bunga yang berbeda-beda (raceme, digitate, sub-digitate, open panicle, dsb).

  • Perakaran (Root system)

Rumput pada umumnya berakar serabut, yang terdiri dari akar utama (primary root), akar cabang (secondary root), akar rambut (hair root).

  • Morphologi Pertumbuhan Rumput

Ada tiga bentuk utama pertumbuhan rumput yaitu tegak (vertical growth) biasanya membetuk rumpun (bunches). Contoh: rumput gajah, rumput raja, rumput benggala. Semi tegak (semi vertical growth). Contoh: rumput setaria, rumput alang-alang. Berumpun dan merayap (creeping growth). Contoh: rumput Brachiaria, ruzi, buffel, dll. Ada dua macam yaitu Stoloniferous dan Rhizomatous Stolon adalah batang rumput yang pertumbuhannya merayap di atas permukaan tanah, pada tiap buku tumbuh akar dan tunas. Rhizoma adalah batang rumput yang pertumbuhannya merayap di bawah permukaan tanah, pada tiap buku tumbuh akar dan tunas.

Beberapa Spesies Rumput yaitu rumput potongan, dgn karakteristik tumbuh tinggi, vertikal, berumpun (bunched). Anakan (tiller) 40 sampai ratusan /rumpun. Responsif terhadap pemupukan. Produksi segar/ha/th: 250-1000 ton. Prod. bahan kering (BK): 50-200 ton/ha/th. Beberapa contoh rumput potongan: Rumput Gajah, Rumput Raja, Rumput Benggala, Rumput Mexico, Rumput Setaria. 

Pengenalan Rumput Menurut Aak (1983):

·      Rumput Potongan

1)   Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) 

Berasal dari daerah Afrika Tropik, bahan penanaman  adalah stek dan pols Adaptasi jenis rumput ini adalah tanah yang digunakan sangat luas, yakni mulai dari struktur ringan, sedang sampai berat; dan tanaman ini agak toleran terhadap tanah asam dan alkalis, serta bisa tumbu baik pada tanah yang asin. Ketinggian 0­­­­3.000 m, dataran rendah sampai dataran tinggi. Curah hujan cukup, sekitar 1.000 mm/tahun atau lebih.

Rumput ini berumur panjang, tumbuh vertikal membentuk rumpun, daun lebat, dan bisa mencapai tinggi 2-2,5 m. Produksi rata-rata sekitar 250 ton/Ha/tahun. Rumput ini baik sebagai bahan silage, dan sebagai rumput potongan ataupun gembala, asal pertumbuhannya bisa dipertahankan pendek-pendek. Tanaman ini pertumbuhannya sangat cepat, dan waktu masih muda nilai gizinya cukup tinggi. Itulah sebabnya maka dianjurkan untuk melakukan pemotongan pada saat tanaman itu masih muda  (menjelang berbunga). Karena tanaman ini mengambil zat makanan dari dalam tanah begitu cepat, maka tanah harus selalu sering dipupuk.

2)   Rumput Benggala (Pannicum maximum) 

Berasal dari Afrika Tropik dan sub-Tropik, bahan penanaman adalah pols dan biji. Dapat hidup pada jenis tanah mulai dari struktur ringan, sedang sampai berat, tetapi lebih disukai tanah sedang yang subur. Ketinggian sesuai pada dataran rendah ataupun dataran tinggi (0- 1.200 m). Curah hujan 1.000- 2.000 mm/tahun. Dengan demikian rumput ini akan lebih sesuai apabila ditanama di daerah yang banyak curah hujannya. Namun demikian tanaman ini tak tahan genangan air.

Pannicum maximum termasuk tanaman rumput berumur panjang (tahunan). Tanaman tersebut tumbuh tegak, kuat, batang seperti padi, mencapai tinggi 2- 2,5 m, warna daunnya hijau tua, bentuknya ramping, bagian tepi kasar tetapi lunak dan dengan lidah daun yang kuat. Rumput ini membentuk rumpun yang jumlahnya bisa mencapai ratusan batang, karena mudah membentuk anakan, dan memiliki akar serabut yang dalam, sehingga rumput ini lebih tahan kekeringan. Rumput benggala digemari oleh semua ternak, lebih-lebih sapi. Rumput ini merupakan bahan hijauan yang baik untuk dikeringkan sebagai hay ataupun bahan silage; di samping itu juga bisa dijadikan rumput gembalaan. Produksi rata-rata per tahun bisa mencapai 150 ton/Ha. Beberapa varietas adalah Gatton Hamil, Trichoglume.

3)   Rumput Mexico (Euchlaena mexicana)

Berasal dari Mexico (Amerika Tengah), bahan penanaman adalah pols atau stek. Dapat hidup pada jenis tanah struktur tanah sedang atau berat, tetapi lebih disukai tanah sedang yang subur. Ketinggian 0-1.200 m (dataran rendah sampai dataran tingggi). Curah hujan 2.000 mm/tahun.

Tanaman ini termasuk berumur pendek (annual), tumbuh tegak mencapai tingggi 2,5 m daun lebar panjang, mirip tanaman jagung. Produksi rata-rata per tahun 70- 90 ton/Ha. Rumput ini umumnya diperkembangkan sebagai rumput potongan. Pertumbuhannya kembali agak lambat, tetapi bila di daerah panas yang basah lebih cocok.

4)   Setaria sphacelata 

Berasal dari Afrika Tropik, bahan penanaman  adalah pols. Adaptasi adalah pada jenis tanah struktur tanah ringan, sedang sampai berat. Ketinggian 200-3.000 m. Di daerah dataran rendah, rumput ini bisa tumbuh baik pula, jika mendapatkan curah hujan yang cukup, lebih dari 1.000 mm/tahun. Curah hujan sekitar 600 mm/tahun atau lebih.

Tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumpun. Bila kondisi baik satu rumpun bisa mencapai ratusan batang. Pertumbuhan kembali sehabis dilakukan pemotongan seperti halnya rumput Australia, sangat cepat. Rumput ini merupakan rumput potong atau gembala di dataran tinggi, termasuk tanaman yang tahan kering dan teduh, serta genangan air, tetapi yang lebih disukai ialah tanah yang lembab dan subur.

5)   Panicum coloratum 

Berasal dari Afrika Timur, bahan penanaman adalah pols. Adaptasi adalah pada jenis tanah dengan struktur tanah berat serta drainase yang baik. Curah hujan 500 ─ 900 mm/tahun. Termasuk tanaman berumur panjang, tumbuh tegak dan membentuk rumpun, tetapi rumpunnya tak bisa selebat Setaria spachelata atau Panicum maximum. Daun berwarna biru hijau dan tulang tengah daun berwarna putih nyata, lidah daun pendek. Rumput ini palatable (enak) dan baik sebagai bahan hay ataupun silage, dan penggembalaan.

6)   Rumput Sudan (Sudan Grass)

Berasal dari Sudan, bahan penanaman  adalah pols dan biji. Dapat hidup pada jenis tanah ringan, sedang sampai berat, serta tidak terlalu basah. Ketinggian 0-900 mm/tahun. 

Rumput ini berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tingi 2,5-3 m, membentuk rumpun dan tahan kering. Rumput ini daunnya lebat dan kuat, berwarna hijau tua, halus tetapi bagian tepinya kasar, tulang tengah daun berwarna putih yang jelas. Rumput ini selain sebgai rumput potong, dan sebagai bahan silage, baik juga dipergunakan sebagai hay karena batangnya kecil sedang daunnya lebar. Jika dipergunakan sebagai rumput gembala, rumput ini harus dipertahankan tumbuh pendek, yakni sekitar 40-60 cm.

 

·      Rumput Gembala

1)   Brachiaria brizantha 

Berasal dari Afrika, bahan penanaman  adalah pols. Dapat hidup pada jenis tanah dengan struktur tanah ringan, sedang sampai berat. Ketinggian 0-1.200 m (dataran rendah sampai dataran tinggi). Curah hujan lebih dari 1.500 mm/tahun. Rumput ini termasuk berumur panjang. Pertumbuhannya membentuk hamparan vertikal dan horisontal, yang bisa mencapai tinggi 60-150 cm. Batang dan daunnya kaku serta kasar. Rumput ini merupakan rumput gembala berat dan sebagai bahan hay yang baik, karena batangnya kecil, sehingga dengan sangat mudah menjadi kering. Sebagai rumput potongan, produksinya bisa mencapai 70 ton/tahun/Ha. Keistimewaan rumput ini ialah taha injak dan renggut, serta tahan kekeringan dan responsif terhadap pemupukan nitrogen, cepat atau mudah menutup tanah. Tetapi rumput ini tak tahan terhadap genangan air.

2)   Rumput Ruzi, Rumput Kongo (Brachiaria ruziziensis) 

Berasal dari Kongo, dan Kenya (Afrika Tropis), bahan penanaman     adalah pols dan stek (tetapi agak sulit atau lama tumbuh). Dapat tumbuh baik pada hampir setiap jenis tanah, asalkan drainase sempurna. Ketinggian 0-1.000 m atau lebih. Curah hujan sekitar 1.000 mm/tahun. Sebagai rumput gembala, cocok untuk gembala ringan (domba dan kambing) sebab rumput ini kurang tahan injak dan renggut. Rumput ini berumur panjang, tumbuh vertikal dan horizontal, membentuk hamparan dan mencapai tinggi 60-120 cm. Bagian batang yang menjalar bersinggungan dengan tanah (stolon), pada setiap buku stolonnya bisa tumbuh akar, bila kondisi memungkinkan. Maka rumput ini biasanya dapat membentuk hamparan yang lebih lebat. Perakarannya luas, tetapi dangkal, sehingga kurang tahan injak dan renggutan. Batang berwarna merah tua keunguan dan beruas pendek, sedang keadaan daunnya lebar dan berbulu halus, tanaman ini juga responsif terhadap pemupukan nitrogen.

3)   Kolonjono (Brachiaria mutica, Panicum muticum)

Berasal dari daerah Afrika tropik, bahan penanaman   adalah pols, stolon, panjang 20-30 cm dan minimal mengandung 3-4 buku, ditanam miring (450), dua buku masuk ke dalam tanah. Dapat hidup pada struktur tanah sedang atau berat. Ketinggian 0-1.000 m. Curah hujan lebih dari 1.000 mm/tahun. Rumput ini berumur panjang, tumbuh tegak sampai 60-90 cm dan tumbuh menjalar. Panjang batang bisa mencapai 4,5 m. Setiap buku pada stolon tumbuh akar dan tangkai daun. Baik pada batang maupun daun banyak terdapat bulu. Rumput ini tahan genangan air sebab memang rumput rawa, tahan terhadap tanah asam, atau netral, tetapi tak tahan tanah asin. Sebagai rumput potongan produksi rata-rata pertahun 80 ton/Ha. Sebagai rumput gembala, rumput ini agak kurang ideal.

4)   Rumput Australia (Paspalum dilatatum)

Berasal dari Argentina (Amerika Selatan), masuk ke benua Australia pada tahun 1870 dan akhirnya meluas menjadi rumput benua Australia. Bahan penanaman adalah pols. Dapat tumbuh pada struktur tanah sedang sampai berat. Tetapi yang paling baik adalah pada tanah berat yang basah dan subur. Ketinggian 0-2.000 m (dataran rendah sampai pegunungan). Curah hujan tak kurang 900-1.200 mm/tahun.

Termasuk rumput berumur panjang, tumbuh tegak yang bisa mencapai tinggi 60-150 cm, berdaun rimbun yang berwarna hijau tua. Tanaman ini toleran terhadap kekeringan karena sistem perakarannya luas dan dalam serta tahan genangan air. Rumput ini merupakan rumput gembala yang baik, sebab tahan injak dan renggut serta merupakan rumput yang palatable (enak) dan banyak nilai gizinya. Sebagai rumput potong, rata-rata produksinya bisa mencapai 50-70 ton per tahun/Ha. Sehabis dilakukan pemotongan, rumput ini pertumbuhannya kembali sangat cepat. Sebagai rumput gembala ketinggian harus dipertahankan sekitar 30 cm.

5)   Rumput Pangola (Digitaria decumbens) 

Berasal dari  Afrika Selatan, bahan penanaman adalah pols, stolon, panjang 20-30 cm, mengandung 3-4 buku ditanam miring (450), dua buku masuk ke dalam tanah. Dapat tumbuh pada struktur tanah mulai jenis sedang sampai berat yang basah (lembab). Ketinggian 200-1.500 m. Curah hujan 750-.000 mm/tahun atau lebih. Rumput ini tumbuh merayap rendah dan membentuk hamparan yang mencapai tinggi 60-120 cm. Rumput ini berdaun lebat dan halus; pada setiap buku pada stolonnya bisa tumbuh akar dan tangkai. Tanaman ini baik untuk pangonan karena cepat tumbuh, dan disukai ternak karena palatable. Rumput ini dapat tumbuh di tempat yang kering, ataupun pada genangan air. Produksi bisa mencapai 125 ton/tahun/Ha, dan merupakan bahan hay yang baik.

6)   Chloris gayana

Berasal dari Afrika Timur dan Selatan, bahan penanaman adalah pols dan stolon. Dapat tumbuh pada sembarang tanah mulai dari struktur ringan, sedang, sampai berat. Tetapi yang disukai adalah struktur sedang yang subur. Ketinggian 0-3.000 m. Curah hujan 762-1.270 mm/tahun.

Rumput berumur panjang, membentuk rumpun yang lebat, karena tanaman ini menjalar dan berkembang dengan stolon. Pada stolon tumbuh akar dan tumbuh batang baru; tanaman ini bisa mencapai ketinggian 60-150 cm. Rumput Chloris gayana ini tahan terhadap penggembalaan berat dan palatable. Batang stolon bercabang-cabang lebat, sehingga dengan cepat mudah menutup tanah. Rumput ini tahan kekeringan, tetapi tak tahan di tempat teduh dan genangan air.

7)   African Star Grass (Cynodon plectostachyrus)

Berasal dari Afrika Timur, bahan penanaman adalah pols dan stolon. Dapat hidup pada semua jenis tanah (ringan, sedang dan berat). Ketinggian yang cocok dalah dataran rendah. Curah hujan adalah 500-800 mm/tahun.

Rumput ini tumbuh tegak dan menjalar; pada bagian atolonnya tumbuh rapat dengan tanah dan pada buku stolonnya tumbuh akar yang kuat, sehingga rumput ini tahan injak dan renggut. Tanaman ini sangat baik sebagai rumput gembalaan, dan bisa membentuk hamparan. Rumput ini sangat bagus dipergunakan sebagai rumput penggembalaan dan bisa menahan erosi di lereng-lereng.

 

B. LEGUMINOSE

1)   Centro (Centrosema pubescens) 

Berasal dari Amerika Selatan (tropik), bahan penanaman adalah biji. Dapat tumbuh pada jenis tanah ringan dan sedang. Agak tahan terhadap tanah asam. Ketinggian bisa tumbuh sampai pada ketinggian 0-1.000 m. Curah hujan 1300 mm/tahun. Temperatur sekitar 270 C, dalam kondisi lembab.

Termasuk tanaman leguminose berumur panjang (lebih dari satu tahun). Batang-batangnya tumbuh menjalar, dn bagian ujungnya melilit. Sesudah berumur lebih dari 4 bulan membentuk pertanaman yang menutup tanah. Bunganya berwarna ungu, besar, dan polongnya panjang, berdaun 3 buah berbentuk oval pada setiap tangkai. Daun lebat, batang tak berkayu. Centro tahan hidup di bawah naungan, dan tahan kekeringan. Demikian pula, bahwa tanaman ini baik untuk dipergunakan sebagai penutup tanah dan pupuk hijau, karena tumbuh cepat, agresif dan daunnya lebat. Tanaman ini juga bisa ditanam di tanah yang kering, tanpa pupuk.

2)   Kacang Asu (Calopogonium mucunoides)

Berasal dari Amerika Selatan, bahan penanaman adalah biji. Dapat tumbuh pada struktur tanah sedang sampai berat. Ketinggian 200-1000 m. Curah hujan 1270 mm/tahun. Biasa hidup pada temperatur yang lebih panas, atau daerah tropis yang basah.

Tanaman ini berumur pendek, tumbuh menjalar dan memanjat, bisa mencapai 30-50 cm. Batang dan daun yang masih muda berbulu, berwarna coklat keemasan. Bentuk daun bulat, setiap tangkai terdapat 3 buah daun. Bunganya kecil, berwarna ungu. Karena tanaman ini banyak berbulu, maka kurang disukai hewan.

3)   Kacang Ruji, Kudzu (Pueraria phaseoloides = Pueraria javanica)

Berasal dari India Timur, yang kini telah tersebar luas di negara-negara tropik. bahan penanaman dalah biji atau stek. Dapat tumbuh pada jenis tanah struktur ringan, sedang sampai berat. Ketinggian 0-1000 m. Curah hujan 1270 mm/tahun. Temperatur sesuai di daerah tropis yang lembab.

Pueraria termasuk tanaman jenis leguminose berumur panjang, yang berasal dari daerah sub-tropis, tetapi bisa hidup di daerah tropik dengan kelembaban yang tinggi. Tanaman ini tumbuh menjalar dan memanjat (membelit), bisa membentuk hamparan setinggi 60-75 cm. Pueraria memiliki sistem perakaran yang dalam (1-6 m), masuk ke dalam tanah dan luas. Maka di musim kemarau ia masih bisa bertahan, hanya meranggas daunnya, tetapi di musim penghujan daun-daun tersebut akan tumbuh menghijau kembali. Stolon tanaman ini pada setiap buku dapat tumbuh akar dan cabang tanaman baru, sehingga sangat bagus sebagai penahan erosi. Pueraria berdaun lebar, bulat, dan meruncing di bagian ujungnya, serta lebat. Daun-daunnya yang masih muda tertutup bulu yang berwarna coklat, sedangkan bunganya berwarna ungu kebiruan. Karena tanaman ini daun-daunnya sangat lebar dan lebat, maka sangat baik dipergunakan sebagai penutup tanah, di samping sebagai bahan makanan ternak yang sangat disenangi oleh hewan. Tanaman ini tahan ditanam di tempat yang agak teduh.

4)   Lamtoro = Petai Cina (Leucaena leucocephala)

Berasal dari Amerika Tengah (Mexico) dan Amerika Selatan. Bahan penanaman adalah biji. Dapat tumbuh pada jenis tanah sedang sampai berat. Ketinggian 700-1200 m. Curah hujan sekitar 700-1650 mm/tahun, atau lebih. Temperatur 20-300 C. 

Tanaman ini berbentuk pohon yang bisa mencapai ketinggian 10 m, dan memiliki sistem perakaran yang cukup dalam. Daunnya kecil-kecil, bentuknya lonjong, sedang bunganya bertangkai, berkepala bulat bola yang warnanya putih kekuning-kuningan. Tanaman ini toleran terhadap hujan, angin, kekeringan/sinar matahari, serta tanah-tanah yang kurang subur asal drainase sempurna. Tanaman ini berguna sebagai makanan ternak, mempertahankan kesuburan tanah dan erosi. Lamtoro sebagai makanan hijauan ternak, jumlah zat-zat yang terkandung di dalamnya merupakan saingan bagi alfalfa. Sebab di samping banyak kandungan gizi, lamtoro yang masih muda rasanya enak dan mudah dicerna.

Lamtoro sebagai makanan hijauan ataupun konsentrat (biji) hanya bisa diberikan pada hewan ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba, atau bisa diberika kepada hewan-hewan monogastrik, tetapi dalam jumlah terbatas, mengingat bahwa tanaman ini mengandung racun (toxic). Kandungan racun ini disebabkan adanya glucoside mimosin yang terdapat baik pada daun maupun biji. Di dalam suatu percobaan pada ternak babi dengan menggunakan tepung hijauan lamtoro dalam jumlah 15 % yang dicampur ke dalam ransum, tak menimbulkan efek negatif (sakit). Tepung daun lamtoro tidak diberikan kepada hewan yang sedang bunting. Sedang pada unggas bisa diberikan pula, asal jumlahnya tak melebihi dari 5 %. Cara menurunkan kadar toxic adalah sebelum bahan dicampur dengan ransum lainnya, bahan disimpan selama 1 minggu atau dikeringkan, ataupun dengan menambahkan garam besi ke dalam ransum. Sedangkan yang berbentuk biji bisa direndam ke dalam air.

5)   Sylo (Stylosanthes guyanensis = Stylosanthes gracilis)

Berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, bahan penanaman adalah biji atau stek. Dapat tumbuh pada struktur tanah ringan, sedang sampai berat, dan tahan terhadap asam. Ketinggia 0- 1000 m. Curah hujan lebih dari 850 mm/tahun. Temperatur bisa hidup pada temperatur yang tinggi.

Stylosanthes termasuk tanaman berumur panjang (menahun), yang tumbuh tegak dan semi tegak menyerupai semak, yang bisa mencapai ketinggian 100-150 cm. Tanaman ini batangnya kasar, berbulu, serta rimbun, menutupi tanah. Tanaman ini setiap tangkai berdaun tiga helai. Sedangkan sistem perakarannya luas masuk ke dalam tanah, sehingga tahan terhadap kekeringan. Leguminose ini mudah beradaptasi, dapat tumbuh baik di daera kering mupun basah. Di tanah yang miskin pun dapat tumbuh, tahan terhadap tanah asam, tetapi tak tahan dengan naungan, produksi per tahun sekitar 6 ton.

6)   Townville Stylo (Stylosanthes humilis)

Berasal dari Amerika Selatan (tropik), bahan penanaman adalah biji. Dapat tumbuh pada semua jenis tanah baik ringan, sedang atau berat. Tetapi lebih disukai pada jenis tanah ringan. Ketinggian 500-1500 m. Curah hujan 635-1780 mm/tahun. Temperatur 15- 270 C.

Tergolong legium berumur pendek (annual), ia akan mati di musim kemarau dan biji-bijinya akan tumbuh kembali di musim penghujan. Tanaman ini tumbuh pendek (± 70 cm), tegak membentuk semak, batangnya bercabang-cabang dan berbulu putih, pada setiap buku tumbuh semacam duri. Sedangkan daunnya, hanya kecil memanjang dan runcing. Setiap tangkai terdapai 3 helai daun. Tanaman ini tahan terhadap penggembalaan berat, tahan terhadap kekeringan dan genangan air. Keistimewaan tanaman ini ialah sangat disukai oleh ternak sapi dan lain-lainya, cepat tumbuh dan cepat menutupi tanah, tetapi tidak tahan di tempat yang teduh.

7)   Turi (Sesbania grandiflora)

Berasal dari Srilangka, bahan penanaman adalah biji. Beradaptasi pada ketinggian di dataran rendah sampai dataran tinggi, di bawah 1200 m. Curah hujan 2000 mm/tahun. Sejenis tanaman semak yang bisa mencapai 5-10 m, tumbuh cepat di daerah tropis yang lembab. Maka tanaman ini di Indonesia banyak ditanam di pematang sawah. Tanaman ini bunganya besar berwarna putih tapi ada pula yang merah atau ungu. Sedangkan bentuk buahnya berbentuk polong yang panjang.

Hijauan turi dipergunakan sebagai makanan ternak sangat menguntungkan karena merupakan sumber vitamin, yaitu pro vitamin A, vitamin B, C dan E; Sumber mineral, terutama Ca dan P; Jika pemotongan teratur maka pertumbuhan kembali diperoleh daun yang selalu fresh pada sepanjang musim. Dapat hidup di tempat-tempat yang agak teduh dan tanah kapur, ataupun tanah tandus.

 

C.  Produksi Tanaman Pakan

Produksi hijauan pakan (forage) adalah hasil pemanenan tanaman pakan yang dipanen pada saat akhir pertumbuhan vegetatip (akhir pertumbuhan daun dan batang) sampai awal pertumbuhan generatip (awal pertumbuhan bunga). Dapat dinyatakan dalam produksi segar dan produksi bahan kering (BK)/ satuan luas lahan/ satuan waktu.

Faktor-faktor yang memengaruhi produksi takan adalah Tanah, iklim, manajemen dan spesies. Iklim adalah ketinggian tempat, letak tempat di permukaan bumi, curah hujan. Manajemen adalah pengolahan tanah, pemupukan, pemotongan (defoliasi).

Menurut Boediman (1992), pemanenan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara grazing (penggembalaan) dan cara cut dan curry (pemotongan). Yang perlu diperhatikan dalam pemotongan maupun penggembalaan adalah saat pemotongan atau penggembalaan, tinggi pemotongan dan frekuensi pemotongan.

 

 

 

Pemotongan atau penggembalaan, terdapat 3 fase pertumbuhan yaitu fase pertumbuhan I adalah produksi rendah, kualitas tinggi, pertumbuhan vegetatif masih lemah, pemotongan atau penggembalaan berulang kali pada fase ini akan berakibat buru pada regrowth. Fase pertumbuhan II adalah produksi tinggi, kualitas cukup baik, pertumbuhan vegetatif sudah kuat, pemotongan pada fase ini tidak berpengaruh buruk pada regwoth. Fase pertumbuhan III adalah produksi tinggi, kualitas menurun, masa persiapan pembentukan bunga dan biji, pemotongan pada fase ini akan menghasilkan hijauan yang berkualitas rendah. Maka pemotongan atau penggembalaan pada umumnya dilakukan pada fase II dimana produksi atau nilai gizi cukup baik dan tidak akan mengganggu regrowth yaitu pada saat menjelang berbunga.

Defoliasi adalah pengambilan atau pemotongan bagian tanaman yang berada diatas permukaan tanah baik oleh pemanenan dengan alat atau perenggutan ternak. Interval defoliasi adalah jarak antara pemotongan yang satu dengan pemotongan berikutnya. Umumnya untuk rumput-rumputan pada musim hujan interval pemotongannya 40 hari (6 minggu) dan bla 60 hari untuk menjaga pertumbuhan kembali, apabila interval terlalu pendek akan menyebabkan tanaman menjadi jelek pertumbuhan kembalinya dan dapat menyebabkan kematian, karena tanaman pemotongan tidak diberi kesempatan untuk tumbuh. Interval pemotongan terlalu panjang menyebabkan penurunan gizi/kualitas hijauan makanan ternak karena tanaman telah tua (melewati fase berbunga). Interval pemotongan untuk legum bervariasi antara 6-7 bulan.

Intensitas defoliasi adalah tinggi rendahnya pemotongan dari hijauan makanan ternak diukur dari permukaan tanah. Umumnya untuk rumput-rumputan dan legum bukan pohon intensitas pemotongan (disisakan) 15-20 cm dari permukaan tanah. Untuk menjaga pertumbuhan tunas kembali, intensitas pemotongan jangan terlalu pendek dan jangan pula terlalu panjng agar tanaman tidak berkayu, pada tanaman yang batangnya mudah berkayu misalnya rumput raja. Interval dan intensitas pemotongan akan memengaruhi pertumbuhan kembali hijauan makanan ternak yang bersangkutan.

Pertumbuhan kembali merupakan sifat fisiologis suatu tanaman makanan ternak untuk menyembuhkan diri dan tumbuh kembali setelah mengalami defoliasi. Salah satu faktor yang menentukan kondisi pertumbuhan kembali tanaman pakan ternak adalah tersedianya bahan makanan cadangan yang berupa karbohidrat didalam akar atau rhizome dan tunggul yang ditinggalkan setelah pemotongan.

 

D.  Menduga Produksi Pakan

Pada kenyataan di lapang, untuk menduga produksi kumulatip tahunan tanaman pakan secara real, waktu yg dibutuhkan minimal adalah setahun. Pada daerah yang distribusi curah hunannya merata sepanjang tahun, distribusi ketersediaan hijauan pakan juga merata sepanjang tahun. Pada daerah yang bermusim lebih dari satu musim/tahun, produksi tanaman pakan sangat tergantung musim. Untuk daerah bermusim hujan dan kemarau, produksi kumulatip tahunan adalah jumlah dari produksimusim hujan + produksi musim kemarau: Prod. Kumulatip (ton/ha/th) = Prod (musim hujan + musim kemarau).

Misal terdapat 7 bulan selama musim hujan dan 5 bulan selama musim kemarau. Pada musim hujan, tanaman pakan dipanen setiap 40 hari sekali, dan pd musim kemarau, dipanen setiap 60 hari sekali. Selama musim hujan terdapat (7 x 30) hari/40 hari = 5, 25 kali panen, dibulatkan = 5 x panen. Dari 5 kali panen musim hujan tersebut, misal produksi hijauan. segar/panen masing-masing adalah: 60, 40, 70, 40, dan 30 ton/ha. Sehingga jumlah produksi selama musim hujan = (60 + 40 + 70 + 40 + 30) ton/ha = 240 ton/ha. Produksi rata-rata/panen pada musim hujan = (240 / 5) ton/ha = 58 ton/ha/panen. Pada musim kemarau terdapat:  (5 x 30) hari/ 60 hari = 2,5 kali panen, dibulatkan = 3 kali panen.

Misal produksi tiap kali panen masing masing adalah: 35, 25, dan 30 ton/ha, maka produksi segar selama musim kemarau = (35 + 25 + 30) ton/ha = 85 ton/ha.

Produksi rata-rata/panen pada musim kemarau = 85 ton/3 kali panen = 28,333 ton/panen. Produksi kumulatip (ton/ha/th) = Jumlah produksi (musim hujan + musim kemarau) = (240 + 85) ton/ha/th = 325 ton /ha /th, dari (5 kali panen m.hujan + 3 kali panen m. kemarau) = 8 kali panen selama setahun.

Produksi kumulatip/th tersebut dapat juga ditulis secara singkat, menjadi: P. Kum (ton/ha/th) = Prod. Kumulatif (ton/ha/th) = Prod. Rataan musin hujan/def. x (∑ hari musin hujan/ID musim hujan) + Prod. Rataan m.k/def x (∑ hari musim kemarau /ID musim kemarau).

Keterangan:

  • ID = interval defoliasi, interval (jarak hari) satu pemanenan dg pemanenan berikutnya.
  • Prod. Rataan/def. = jumlah produksi selama musim tertentu / banyaknya kali panen.
  • ∑ hari m.hj atau mk = jumlah hari sepanjang  musim tsb: (jumlah bulan x 30).

Dari contoh soal di atas, Prod kumulatip = 48 ton/ha/def x (7 x 30 hari/40 hari) def + 28,333 ton/ha/def x (5 x 30 hari /60 hari) def = 48 ton/ha/def x 5 def + 28,333 ton/ha/def x 3 def  = 240 ton/ha/7 bln + 85 ton/ha/5bln = 325 ton/ha/th. 

Menurut Reksohadiprodjo (1991), contoh rumput Brachiaria, mulai dipotong 2-8 bulan sesudah ditanam. Pemotongan disisakan 1-7 cm dari atas tanah memberikan hasil 20 % dibanding pemotongan dengan sisa 15-20 cm dari atas tanah.

Pupuk 100 kg N/Ha                 hasil BK   + 49,2 %

                                                          TDN + 79,2 %

                                                             CP + 233 %

               + 1 Kg N                   + 21 – 47 kg BK

Irigasi tiap 4-7 hari

N: 200-400 kg/tahun. Pemotongan: 8-10 minggu 1 x.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aak. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Kanisius. Yogyakarta.

 

Boediman, Soepodo. 1992. Petunjuk Budidaya Hijauan Makanan Ternak. Departemen Pertanian.

 

Lay BW. 1994. Analisisis mikroba di laboratorium. Rajawali Grafindo Persada. Jakarta.

 

Rahardjo, Tri. 2002. Ilmu Teknologi Pangan. Unsoed. Purwokerto.

 

Reksohadiprodjo, Soedomo. 1991. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. BPFE. Yogyakarta.

 

5 thoughts on “Ilmu Tanaman Pakan

    • wah kalau kecernaan dipengaruhi oleh jumlah daun, belum pernah dengar. yang saya tahu Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan suatu bahan pakan adalah: (1) penyiapan makanan, (2) jumlah makanan, (3) komposisi ransum, (4) jenis hewan, (5) komposisi zat makanan, (6) bentuk fisik bahan pakan, (7) lemak, (8) defisiensi zat makanan dan (9) antinutrisi. seperti lamtoro kecernaannya mencapai 60-70%, namun tdk boleh terlalu banyak diberikan kpd ternak krn memiliki anti nutrisi mimosa, semacan zat asam amino yg dpt merontokkan bulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s