Senandung Ketika Hujan…

Tidak!… Aku benci semua ini!… Kata-kata itu sangatlah menusuk hatiku! Tak pernah kurasakan perasaan ini yang kian lama kian menyakitkan membuat duka nestapa yang berdarah. Merasa kalut, sedih dalam kesendirian. Kini, ku bingung tak tahu arah harus melangkahkan kaki ke mana???

Bulir air mata menetes satu persatu membentuk cipratan ke dalam dasar kalbu. Semua semakin tak terarah, tak ada orang yang peduli denganku!

Mengapa semua pergi meninggalkanku! Tiada pernah peduli. Tiada ingin tahu apa yang kurasakan. Apa menurut mereka rumah mewah dan fasilitas adalah jawabannya? Mengapa? Mengapa?

Tanpa komando dari siapapun ku hanya melangkahkan kaki tak tahu arah mengikuti kemana langkah kaki ini mau menuju, dan tanpa disangka-sangka ku berada di sebuah taman yang telah tak terawat. Tanpa peduli kumasuki taman itu. Indah! Namun, sayang mengapa sebagian taman ini telah rusak.

Dengan iba akhirnya ku rawat taman tersebut. Tanpa diduga kini, semua rasa sedihku telah lenyap terhapus dengan keindahan alam yang terbentang luas menandakan KeMaha Kuasaan-Nya. Sehingga kini, tak terasa sebulan pun telah berlalu.

Bagaimana tidak ku merasakan ketenangan ini? Kerana rasa sedihku telah terhapus dengan keindahan tiada tara. Setiap sore ku datang ke taman ini tuk’ bersenandung menikmati alam yang begitu bersahabat denganku tiada pernah membuatku bersedih ataupun resah. Tidak seperti ku berada di rumah yang serasa memenjarakanku.

Baiklah, kurasa lebih baik kulupakan sejenak saja perasaan yang hanya membuat putus asa. Kini, hujan turun rintik-rintik. Ku duduk di atas bongkahan batu besar seraya memandang lukisan alam yang tak mampu seorangpun menandinginya. Ini adalah ciptaan “Sang Pendekor Besar” Yang Kuasa memperindah segalanya.

◊◊◊◊◊
 Sayup-sayup malam pun mulai terdengar mengantarkan sebagian orang untuk melepas lelah sesaat setelah sibuk seharian.

“Lihat, dasar Ibu gak berguna! Anak belum pulang. Keluyuran gak jelas sampai malam begini gak diurusin!” Malam itu seorang laki-laki paruh baya, murka tak dapat mengendalikan emosi.

“Ampun, Pak. Aku sudah cari Dinda ke mana-mana. Namun, tak ada hasilnya.” Seorang ibu paruh baya pun bersimpuh di hadapan suaminya. “Iya, kamu bukan mencari anak itu. Tapi, hanya sekadar keluyuran doang!!” “Tapi, Pak…” “Saya tidak mau tahu, kamu harus cari anak tersebut!” Ucap lelaki itu dengan mata berkilat-kilat. Terlihatlah di rumah tersebut bagaikan tempat adu pendapat yang tak terselesaikan. Hujan lebat disertai petir menyambar-nyambar membentuk sebuah simfoni yang tak beraturan.

Dari balik pintu seorang gadis remaja masih mengenakan pakaian sekolah dengan rambut dikepang dua, basah kuyup terguyur hujan seraya mengendap-ngendap masuk.

“Bagus, lampu telah mati. Pasti Ayah dan Bunda telah tidur.” Ia langkahkan kakinya memasuki rumah yang mewah, yang baginya hanyalah memenjarakan dirinya. Tanpa disangka, dengan tiba-tiba lampu menyala dan dihadapannya seorang lelaki paruh baya bertubuh tegap berdiri tepat di hadapan gadis tersebut.

“Dari mana saja kamu?” Hanya kata itu yang dilontarkan lelaki itu tanpa aba-aba ia menampar putrinya. Sehingga tersungkurlah gadis tersebut. Tiada kuasa untuk mengeluarkan kata-kata, ia hanya mampu menangis.

Waktu pun, bergulir dengan cepat. Lelaki paruh baya itu mengusir istri dan putrinya. Tanpa arah tujuan ditemani rintik hujan mereka pun melangkah.

◊◊◊◊◊
 Sore hari yang mendung semakin muram. Terlihat seorang gadis terduduk lesu di atas batu seraya bersedih.

Sementara, di sebuah gubuk kecil dekat batu tersebut ada seorang ibu paruh baya sedang menyulam. Ibu itu terlihat letih. Namun, wajah ayunya masih terlihat jelas walau kelelahan hidup telah menderanya. Suasana begitu hening.

Dari keadaan muram. Tiba-tiba saja terdengar suara yang begitu indah dan merdu. Bagi yang mendengarya tentu akan merasa kagum seraya menikmati indahnya alam. Tiada lama kemudian, turunlah rintik-rintik hujan dan semakin lama semakin lebat. Buru-buru gadis yang terduduk di atas batu pun berlari memasuki sebuah gubuk kecil seraya tersenyum dengan ibunya.

◊◊◊◊◊
 Di lain tempat, seorang laki-laki paruh baya terduduk lesu di atas sebuah kursi roda meratapi nasib diri. Yang kini, sendiri tiada ditemani seorang keluargapun. Di sana tertata apik barang-barang mahal, rumah dengan ruangan yang besar. Namun, hanya dihuni seorang laki-laki paruh baya dan kedua orang pembantu yang masih setia dengan majikannya.

Laki-laki tersebut sungguh menyesal karena telah mengusir istri dan putrinya. Tanpa pernah ia mempedulikan keluarganya. Ia selalu menuruti hawa nafsunya.

Sore yang mendung membuat keadaan di sekitar dingin. Seorang laki-laki paruh baya tertidur lesu di atas ranjang mahal, ia sendiri tiada orang yang menemaninya. Keadaannya semakin parah, demam yang tinggi. Tiba-tiba saja nafasnya sesak, tiada lama nafasnya tidak kembali kepada sang peminjam. Karena telah kembali kepada Sang-Pemilik yang Sesungguh Nya……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s