Sebuah Keinginan Bukan Hanyalah Mimpi

Pagi yang sejuk nan indah dengan angin sepoi-sepoi nya. Pagi itu sekitar pukul lima, Rissa telah bangun dan telah melaksanakan sembahyang Subuh. Lalu ia segera pergi ke dapur untuk membantu ibunya mempersiapakan barang-barang dagangan.

Rissa setiap pagi membantu ibunya berjualan nasi uduk. Itu telah di lakukan Rissa sekitar satu tahun belakangan ini, setelah bapak Rissa meninggal dunia, ketika sedang menarik mobil taxi, saat itu kecelakaan menimpa bapaknya, bapaknya meninggal ketika dalam perjalanan ke rumah sakit karena kekurangan darah. Biasanya mereka berjualan tidak jauh dari rumah.

Sekarang Rissa telah berusia 15 tahun tetapi, ia tidak melanjutkan ke bangku SMA karena kekurangan dana, ia hanya menamatkan SMP. Rissa sekarang membantu ibunya, dengan bekerja di toko roti sebagai pelayan toko tersebut. Memang, hasil sebagai pelayan toko roti tidak terlalu banyak namun lumayan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari atau mengobati Adi kalau sakit. Memang kalau lagi dapat bonus lumayan, apalagi kadang suka mendapat roti walaupun, memang itu hanyalah roti yang tidak habis di jual hari itu tetapi, lumayan untuk sekadar mengganjal perut.

Pagi itu sekitar pukul tujuh, Rissa sedang sibuk membantu ibunya membungkus nasi untuk pelanggan, tangannya yang terampil membungkus nasi dengan cekatan tetapi rapih.

Sekitar pukul setengah delapan dagangan Rissa dan ibunya telah habis mereka pun memberesi barang-barang yang tadi pagi di bawa, setelah itu mereka pun pulang. Sesampai di rumah, ibunya menghitung hasil pendapatan pagi itu. “Nak, Alhamdulillah lumayan hasil pagi hari ini. Cukuplah untuk belanja kebutuhan hari ini dan belanja kebutuhan jualan besok. Tetapi …, Ris kapan kamu mengambil gajimu pada bu Lili untuk membawa Adi ke dokter.” Ucap ibu Rissa dengan agak pelan. “eee…Insya Allah hari ini Bu.” Jawab Rissa dengan pelan pula.

………………………

Rissa pun merapikan rumahnya setelah itu ia rapi-rapi karena, ia mau pergi kerja. “Bu, Rissa pergi kerja dulu ya, “Assalamualaikum.” Pamit Rissa kepada ibunya sambil mencium tangan ibunya. “Waalaikum sallam, hati-hati ya nak di jalan!” Nasihat ibunya.

Wajah yang hitam manis serta tubuh kurus itu hilang di sela-sela keramaian orang-orang . Sekitar lima menit Rissa duduk di halte menunggu mobil angkot ke arah tempat kerjanya. Jilbab coklat yang dikenakannya membuat cantik wajahnya yang hitam manis serta menampakkan keimananannya yang tampak dari paras wajahnya. Sekitar sepuluh menit ia menunggu akhirnya, datang juga angkot yang ia tunggu-tunggu. Rissa pun naik angkot tersebut. Sekitar lima belas menit, akhirnya Rissa pun tiba di tempat kerjanya.

Di tempat kerja, Rissa tak berkosentrasi. “Dek, tolong ambilkan roti tawar yang berbentuk bulat!” Suruh bu Lili pemilik toko tersebut. Rissa pun mebawakannya roti tawar yang berbentuk segi empat. “Ini bu rotinya!” Ucap Rissa sambil memberikan roti tersebut kepada pemilik toko tersebut. “Ris, saya kan, menyuruhmu untuk mengambilkan roti yang berbentuk bulat bukan roti yang berbentuk segi empat. Sekarang tolong kamu ambilkan roti yang saya maksudkan bukan roti ini ya!” Dengan nada memelas Rissa pun meminta maaf, “Maafkan, saya bu.” “Ia, kamu saya maafkan, sekarang tolong ambilkan!” Tidak terlalu lama akhirnya, Rissa datang membawakan satu bungkus roti tawar pesanan ibu Lili.

“Tak seperti biasa Rissa seperti itu, biasanya kalau saya suruh dia melakukan dengan benar tanpa salah, tetapi kok hari ini dia seperti itu.” Kesah bu Lili dalam hati.

Sekitar pukul dua belas siang, terdengarlah suara adzan Zuhur. Rissa pun bersegera ke Mushala tak jauh dari tempat kerjanya untuk melaksanakan sembahyang Zuhur. Ada rasa tak kuat di hati Rissa untuk mengambil gajinya sekarang, karena baru seminggu yang lalu ia gajian namun, masa hari ini ia harus mengambil gajinya untuk bulan ini. Tentu, jikalau ia harus mengambil gajinya sekarang, saat waktunya tiba gajian ia sudah tidak punya uang gajian lagi. Akhirnya, Rissa membantalkan untuk mengambil gajinya sekarang.
“Ya, Rab mengapa engkau selalu memberikan cobaan yang sulit pada keluargaku, kini adikku semata wayang Adi sedang sakit. Bila ku melihat tubuh kurus Adi tergeletak di tempat tidur, merintih kesakitan sungguh sedih rasanya. Seandainya aku telah mendapat gajiku hari ini akan ku belikan obat untuknya atau ku bawa ke dokter. Kasihan ia entahlah penyakit apa yang bersarang di badannya. Seandainya aku punya sebuah kekuatan untuk bicara dengan bu Lili agar ia mau memberikan gajiku hari ini.” Tak terasa Rissa pun meneteskan air mata. Terbayang wajah adiknya yang polos.
Sore itu Rissa pulang sehabis Isya, ia pun shalat terlebih dahulu. Sekitar pukul setengah sembilan ia sampai di rumahnya. Ia pun langsung masuk ke dalam kebetulan saat itu pintu rumahnya belum di kunci. “Assalamualaikum.” Ucap Rissa. “Waalaikumsallam.” Jawab ibu Rissa. Rissa pun masuk ke kamar untuk menaruh tasnya dan berganti baju, setelah itu ia pun menghampiri adiknya Adi. Rissa memegang kening adiknya dan menciumnya. “Ternyata Adi masih panas badannya.” Kesah Rissa dalam hati. Tak terbendung lagi air matanya pun tumpah.

“Ris, bagaimana apakah kamu dapat gajimu?” Tanya ibu Rissa. “Bu, saya belum kuat untuk bicara kepada bu Lili dan lagi pula saya merasa tidak enak karena, bu Lili terlalu baik dengan saya.” Jawab Rissa. “Nak, ibu mengerti ibu bisa merasakan itu semua, mungkin besok ibu akan mencari cucian untuk tambahan mengobati adikmu.

“Nak, seharusnya kamu tidak bekerja keras seperti itu, seharusnya sekarang kamu sekolah menggapai cita-citamu” Ujar ibu Rissa. “Sudah, tidak apa-apa bu. Mungkin, ini semua Allah telah atur bu.” Ujar Rissa. Rissa sebenarnya merasa sedih, karena ibunya kini makin tua dan suka sakit-sakitan. “Tidak seharusnya ibu bekerja keras seperti itu.” Kesah Rissa.

Tidak seperti biasa, hari ini Rissa pulang telat soalnya hari ini ia lembur. Sekitar pukul sepuluh ia baru sampai di rumah. “Assalamualaikum.” Ucap Rissa. “Waalaikumsallam.” Jawab ibu Rissa. Rissa merasa sedih sekali melihat ibunya yang telah tua menyeterika tumpukan baju dengan sisa tenaganya. Rissa pun masuk ke kamar. “Bu, apakah Adi masih panas?” Tanya rissa. “Masih nak, lusa Adi akan ibu bawa ke dokter Ris.” Ujar ibu. “Bu biar Rissa yang meneruskan ya, ibu sekarang tidur saja ya!” Ajak Rissa. “Tetapi, Ris besok kan kamu harus kerja.” Ujar ibu. “Tak apa bu yang terpenting ibu harus istirahat. Nanti, ibu sakit. Lagi pula kan besok pagi ibu berjualan, sekarang ibu tidur dulu.” Jawab Rissa. “Ya sudah nanti, kamu makan seadanya saja.” Ujar ibu. “Bu lauknya buat besok aja lagi pula Rissa telah makan kok tadi.” Jawab Rissa. “Ya sudah ibu tidur dulu.” Ujar ibu lagi.

Dengan sisa tenaga Rissa menyeterika baju-baju dan menyelesaikannya. Sekitar pukul dua belas akhirnya, Rissa pun selesai. Ia pun tertidur karena kecapaian. Sekitar pukul setengah lima Rissa telah bangun untuk sembahyang subuh dan membantu ibunya. Pagi itu Rissa tidak membantu ibunya berjualan. Rissa beristirahat di rumah. Seperti biasa Rissa berangkat kerja pukul delapan.

Ketika istirahat tiba Rissa di panggil bu Lili untuk menghadapnya. “Ris, sekarang kita makan di luar ya!” Ajak bu Lili. “Ah, ibu tetapi kan pekerjaan saya masih banyak?” “Sudah tidak apa-apa.” Dengan berbagai cara bu Lili membujuk Rissa untuk menuruti permintaannya. Akhirnya, Rissa pun menuruti ajakan bu Lili. Rissa di ajak bu Lili makan siang di restoran.

Tampak terlihat dua orang sedang makan mereka tampak berdiam diri, hening. “Ris, mengapa kamu bengong saja?” Tanya bu lili memecah keheningan. “Eh… iya bu ada apa?” Ris, kok kamu malah balik tanya. Ris, tampaknya ada sesuatu yang di sembunyikan dari saya.” “Hm… tidak bu, tidak ada.” “Kalau tidak mengapa kamu menjawab dengan tergagap seperti itu. Ris tolong ceritakan sesuatu yang mengganjal di hatimu, dan lagi pula akhir-akhir ini kamu saya perhatiin suka bengong dan pekerjaan suka terlantar. Tolong ceritakan siapa tahu saya bisa membantu” ujar bu Lili. “Benar, tidak ada bu.” Jawab Rissa lagi. Rissa tidak mau menceritakan itu semua kepada bu Lili. Dengan beberapa cara bu Lili membujuk.

Akhirnya Rissa pun menceritakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. “Begini bu adik saya satu-satunya yang bernama Adi sedang sakit. Namun, saya dan ibu tidak memiliki uang untuk membawanya ke dokter, kami telah usahakan membelikannya obat, tetapi adik saya belum juga sembuh bu. Ibu saya setiap pagi berjualan nasi uduk yang hasilnya suka pas-pasan. Ibu juga menjadi buruh cuci untuk tambahan.” Cerita Rissa kepada bu Lili.. “Lalu ke mana bapakmu, Ris?” Tanya bu Lili. “Bapak, ee……………” Bapak kenapa Rissa ceritakan dong?” “Bapak telah meninggal setahun yang lalu bu. Saat itu bapak bekerja sebagai supir taxi namun, ketika itu ada kecelakaan bapak saya ke tabrak mobilnya ringsek.” Tampak peluh air mata keluar dari mata bening Rissa. “Maafkan, saya Ris mungkin kamu masih sedih mengenang peristiwa tersebut.” Ucap Ibu Lili merasa bersalah. “Tidak apa-apa bu, saya mengerti. Tentu, ibu sangat penasaran ingin mengetahui tentang saya.” Ucap Rissa.

“Kalau begitu bagaimana sekarang kita ke rumahmu untuk membawa adikmu ke dokter?” Ajak bu Lili. “Ke rumah saya, tetapi bagaimana dengan pekerjaan saya, bu?” Tanya Rissa. “Tidak apa-apa yang terpenting adikmu cepat sembuh, Ya. Bukankah kamu menginkan agar adikmu sembuh, bukan?” Tanya Bu Lili. “I…iya sih bu tetapi, bagaimana saya membalas kebaikan ibu?” “Sudah tidak apa-apa.” Jawab Bu Lili kemudian.
Siang itu juga mereka pergi ke rumah Rissa. “Assalamualaikum.” Salam Rissa bersamaan dengan bu Lili. “Walaikumsallam.” Jawab Bu Yani ibunya Rissa. “Begini, bu kedatangan saya kemari ingin membawa Ari ke dokter. Saya mendapat kabar dari Rissa kalau adiknya sakit.” Ujar bu Lili.

………………

Siang itu juga Ari di bawa ke dokter. “Ternyata anak ini terkena penyakit tipus, untung saja ia tidak terlambat di bawa kemari. Jika, terlambat mungkin anak ini tidak akan tertolong. Karena penyakitnya sudah agak parah” ucap dokter yamg memeriksa Adi. “Ini resepnya tolong di tebus di apotik rumah sakit ini. Berikan makanan yang halus jangan yang kasar-kasar!” Nasihat dokter tersebut.

“Terima kasih bu, ibu mau menolong adik saya, mungkin kalau tidak ada ibu entah apa yang akan terjadi dengan adik saya.” Ucap Rissa. “Sama-sama dek yang terpenting sekarang semoga adikmu cepat sembuh.” Ucap bu Lili.

…………………

Dua minggu pun telah berlalu. Pagi itu seperti biasa Rissa dan ibunya berjualan nasi uduk sekarang Adi telah masuk sekolah. Sekitar pukul delapan Rissa telah berangkat ke tempat kerjanya, dengan wajah yang berseri-seri. Sekitar pukul setengah sembilan ia telah sampai di tempat kerjanya, tampak ada sebuah semangat baru di dalam hati Rissa. “Assalamualaikum, bu.” Sapa Rissa memecah keheningan. “Waalaikumsallam, Ris. Bagaimana kabarmu hari ini dan apakah adikmu telah sembuh?” Tanya bu Lili kepada Rissa. “Alhamdulillah, keadaan saya saat ini baik-baik saja dan adik saya telah sembuh, sekarang telah masuk sekolah bu.” “Alhamdulillah, jika adikmu telah sembuh. Ris, saya dengar-dengar katanya kamu ingin sekali sekolah lagi, apakah benar?” Tanya bu Lili. “Sebenarnya saya ingin sekali sekolah lagi, namun tidak ada biaya, penghasilan saya dan ibu saja pas-pasan untuk makan dan biaya sekolah Adi.” Ujar Rissa.

Sempat beberapa lama bu Lili berpikir, “Bagaimana kamu dan adikmu saya jadikan anak angkat saja, semua kebutuhan kamu dan adkmu akan saya penuhi.” Ujar bu Lili. “Tetapi…” “Sudah tidak apa-apa saya sudah bilang sama suami saya kebetulan saya tidak punya anak jadi, saya akan membantu keluarga kamu, tolong perbolehkan saya ya! Sudah lama kami menginginkan anak tetapi, Allah belum memberi, pernah saya mengadopsi anak tetapi itu semua gagal. Mungkin Allah telah mengatur ini semua. Siapa tahu saya membantu kamu dan adik kamu dengan hasil yang memuaskan dan semoga apa saya lakukan ini tidak gagal lagi. Ucap Bu Lili. Rissa hanya terdiam saja.

………………

Akhirnya, satu bulan telah berlalu Rissa dan keluarganya tinggal bersama bu Lili sekarang keinginan Rissa bukanlah mimpi lagi. Ingin sekolah bukanlah sebuah kenangan lagi. Kini secercah harapan telah ada di depan mata.
Jakarta, Sabtu 16 Juli 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s